|
Pondok Cabe, Tangerang, 2/6/2009 (Kominfo-Newsroom) – Universitas Terbuka (UT) masuk dalam kategori Super Mega University karena memiliki jumlah mahasiswa lebih dari 500 ribu orang, kata Purek I Bidang Akademik UT, Prof Dr Ir Tian Belawati, M.Ed, usai acara wisuda Periode II tahun 2009 di Gedung UT, Pondok Cabe, Tangerang, Selasa (2/6). Menurut dia, di dunia ini, ada lebih dari 200 perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh, dan hanya 15 perguruan tinggi yang masuk kategori “Mega University”. “Mega University adalah kategori perguran tinggi yang memiliki mahasiswa yang jumlahnya di atas 100.000 orang,” katanya. Ia menambahkan, dari 15 perguruan tinggi yang masuk kategori Mega University itu, hanya ada tujuh perguruan tinggi yang masuk kategori Super Mega University, dan salah satunya adalah UT Indonesia.  Dijelaskan, dari 15 perguruan tinggi di dunia yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh, sebanyak 12 perguruan tinggi berada di benua Asia. “Jadi benua Asia sangat luar biasa, sehingga kami dari penyelengara pendidikan jarak jauh mempunyai organisasi-organisasi yang sifatnya regional,” katanya. Tian mengatakan, di Asia, UT menjadi anggota Asosiasi Universitas Terbuka Asia (AAOU=Asian Association of Open Universities). “Presiden AAOU itu Rektor UT Indonesia, sedangkan Sekjen AAOU saya. Masa bakti kami akan berakhir pada akhir tahun 2010. Presiden dan Sekjen AAOU itu dipilih oleh anggota Executive Committe. Menurutnya, sampai saat ini banyak masyarakat Indonesia yang mengatakan pembelajaran di UT hanya mengarang saja. Padahal, tambahnya, pendidikan jarak jauh itu bukan ciptaan Indonesia, karena jauh sebelum Pemerintah Indonesia membuka UT, sudah banyak universitas terbuka di Negara lain di dunia. Ia menjelaskan, akibat tingkat pendidikan yang rendah, maka kemudian pendidikan jarak jauh digunakan di berbagai negara, dan itu sudah berlangsung sejak dulu, mulai dari zaman Revolusi Industri, ketika banyak negara di dunia sangat membutuhkan banyak tenaga kerja yang berpendidikan. Menurut Tian, di Indonesia, pendidikan jarak jauh khusus untuk guru sudah dilakukan sejak tahun 1950-an untuk program pendidikan guru dalam jangka pendek, kemudian berkembang menjadi pendidikan guru secara tertulis (PPPG) dan akhirnya menjadi UT. Saat ini, katanya, dengan semakin majunya perkembangan teknologi, pendidikan jarak jauh juga semakin berkembang, apalagi dari awal, pendidikan jarak jauh memang selalu memanfaatkan teknologi, walaupun dulu baru teknologi cetak. Sekarang ini, katanya, tidak ada satupun perguruan tinggi di dunia yang tidak menggunakan tekologi untuk memperkaya pembelajarannya, walaupun pada dasarnya merupakan pendidikan tatap muka. Pendidikan jarak jauh di dunia saat ini, katanya, sudah tidak ada lagi yang hanya menggunakan satu macam teknologi saja. Saat ini, umumnya sudah menggunakan beragam teknologi sesuai infrastruktur yang ada di daerah, serta sesuai dengan kemampuan institusi itu sendiri. UT Indonesia, kini mulai dilirik oleh banyak negara karena kualitas lulusannya termasuk sangat baik. Pendidikan jarak jauh banyak disebut sebagai E-learning, padahal E-learning merupakan salah satu di antara alat untuk menjalankan pendidikan jarak jauh. Meskipun keadaan infrastruktur terbatas, tambahnya, tidak bisa dijadikan alasan di suatu Negara tidak ada internet, juga tidak ada alasan untuk tidak melaksanakan pendidikan massal secara jarak jauh, contohnya adalah Indonesia. “Sebagai negara kepulauan dan dengan ribuan pulau jumlahnya, Indonesia itu 81 persennya wilayahnya merupakan air, namun buktinya UT Indonesia mampu menyelenggarakan pendidikan jarak jauh,” kata Prof Dr Tian. (T.Ad/ysoel)
|