| JAKARTA – Citra perpustakaan yang kumuh bukan lagi hal yang relevan. Koleksi perpustakaan masa kini tidak terdiri atas buku-buku yang tua dan lusuh. Buku-buku baru dan informasi dari dunia maya kini menjadi tuntutan kutu buku. Jika menyaksikan film-film Hollywood, ada rasa iri melihat perpustakaan-perpustakaan di Amerika yang begitu modern. Kesan kumuh yang biasa terlihat di beberapa perpustakaan di Indonesia rasanya sirna sama sekali. Di sana, rak-rak buku berjejer dengan gagahnya, internet bisa digunakan secara bebas untuk melihat informasi apa saja, para pengunjung bebas membaca buku hingga berjam-jam tanpa terganggu, di ruang-ruang baca luas dan rapi. Nah, pemandangan seperti ini belum lazim terjadi di Indonesia. Perpustakaan masih identik dengan ruang baca yang gelap, buku-buku tua, serta petugas perpustakaan yang tak ramah. Kalau sudah begini, rasanya membaca pun jadi tak nyaman. Beberapa waktu lalu, Direktur CCF Jakarta, Jany Bourdais, didampingi Direktur Kursus Hervé Guillou dan perwakilan Edufrance, Frida Muljono-Larue, mengundang beberapa jurnalis untuk melihat wajah baru perpustakaan mereka. Perpustakaan ini disebut sebagai Mediatek. Apa keistimewaan perpustakaan yang terletak di Jalan Salemba Raya 25, Jakarta Pusat ini? Dilihat dari fisiknya, perpustakaan ini memang tidak luas. Begitupun, Mediatek yang terdiri dari dua lantai ini sudah jauh dari kesan kumuh. Dengan penerangan yang cukup, para penggemar buku bisa mencari buku-buku kegemaran mereka dengan nyaman. Sebuah ruang baca di lantai atas malah menyediakan tempat duduk yang empuk dan nyaman. Kelebihan lain, menurut Jany, Mediatek dilengkapi dengan berbagai fasilitas baru yang serbamodern. “Tidak hanya buku-buku, perpustakaan ini juga dilengkapi dengan internet dan sarana audio-visual,” katanya. Dari catatan yang dimiliki Mediatek, ada 12.500 buku karya pengarang Prancis yang tersedia di sana. Para pelahap buku bisa memuaskan diri dengan banyak roman Prancis, dari pengarang abad XVII hingga masa kini. Karena buku jenis inilah yang paling banyak tersedia di sana. Namun, deretan buku di perpustakaan mungil yang terdiri atas dua lantai ini tidak cuma menyediakan buku roman. Ada juga deretan koleksi buku-buku budaya, ilmu pengetahuan, politik, filsafat, seni, dan lain sebagainya. “Kami menambah 500 buku setiap tiga bulan,” kata Jany lagi. Selain buku-buku, Mediatek juga menyediakan 400 judul komik untuk remaja dan dewasa. Asterix, Tintin, dan karakter-karakter komik lainnya bisa juga digunakan untuk mempelajari bahasa Prancis. Ada 40 majalah dengan berbagai tema, mulai dari politik, ekonomi, kesehatan hingga mode. Selain lewat media cetak, para pencari informasi juga bisa memanfaatkan 100 CD-Rom yang memuat soal fotografi, turisme, biografi pengarang Prancis, bahkan ensiklopedia dan juga sarana internet yang tersedia. “Mediatek CCF ini siap menjawab kebutuhan masyarakat luas akan informasi mengenai negara dan kebudayaan Prancis,” kata Jany. Bagian yang paling mengasyikkan—dan ini merupakan fasilitas terbaru di Mediatek—adalah menonton film. Ada empat televisi yang dilengkapi dengan VHS dan DVD Player yang bisa digunakan penikmat film tanpa harus mengganggu keasyikan orang lain membaca. Sebab, selain ditempatkan di ruang tertutup, masing-masing perangkat audio-visual itu juga dilengkapi headphone, sehingga suara seru dalam film tak perlu mengusik orang lain. Ada 400 judul kaset video dan 100 judul DVD yang bervariasi dalam berbagai genre film dan dokumenter. Menjadi anggota perpustakaan ini tidak sulit. Hanya dengan membayar Rp20 ribu bagi WNI dan Rp60 ribu bagi WNA, setiap anggota bebas menikmati semua fasilitas Mediatek CCF Jakarta. Kalau saja kebanyakan perpustakaan Indonesia bisa mengusir kesuraman dengan cara seperti yang dibuat Mediatek ini, barangkali akan banyak orang Indonesia yang mulai mencintai buku dan gemar membaca. (ida) | |