
JAKARTA – Hobi membaca selalu membawa berkah. Jaminan ini sudah dirasakan banyak orang. Gara-gara doyan baca - sampai dipanggil kutu buku - kehidupan orang bisa berubah. Usaha ini pun sudah ditegaskan oleh sang Pencipta: pada mulanya adalah kata.
Jadi mulai sekarang, bacalah!
”Saya lebih senang dapat buku yang saya pesan daripada dapat mobil atau motor,” ucap Richard Oh (45) sambil tergelak. Perasaan yang membuncah itu muncul saat Richard mendapat pesanan buku yang dipesannya dari luar negeri. Maklum, ketika itu akses internet belum lagi ditemukan. Jadi pembelian buku dilakukan lewat jasa pos. ”Dan itu makan waktu sampai sebulan”
Buat Richard, buku adalah jendela dunia. ”Buku dapat mengakses kita ke pengetahuan yang belum diketahui sebelumnya. Seolah-olah kita dibawa untuk mengetahui sebuah misteri atau rahasia,” tandas pemilik toko buku QB. Jawaban ini makin tegas, apalagi ia sudah membaca buku How to Read and Why karya Harold Bloom – penulis dan profesor sastra asal Amerika Serikat.
Dalam buku itu, ”Orang yang suka baca adalah orang yang merasa potensial diri belum terwujud,” kata Richard mengutip tulisan sang profesor. Kebutuhan membaca pun membuat seseorang mampu menabung. Hasilnya, membeli beragam buku untuk koleksi. ”Persoalannya kan hanya prioritas.”
Oleh sebab itu, saat satu judul buku belum lagi beres dibaca seorang pehobi lantas gelisah melihat ada judul lain yang tak kalah menarik. Walhasil, berburu buku menjadi hobi yang tak kalah mengasyikkan. ”Dalam satu bulan, saya belanja buku bisa sampai beberapa juta rupiah,” aku Richard.
Ketertarikan pria tiga anak ini dengan dunia buku sudah dimulai sejak usia dini. Saat teman-teman sebayanya melahap komik-komik ceritera silat Cina, macam Kho Ping Hoo, Richard justru tertarik untuk membaca buku-buku beraksara Inggris.
”Waktu itu, saya mulai belajar bahasa Inggris. Jadi, saya baca buku-buku Charles Dickens dan Joseph Conrad,” ujar pria berkacamata ini. Menurutnya, ketika itu, ia tak begitu paham dengan apa yang ditampilkan oleh penulis papan atas itu. Namun, ia jatuh hati bahasa yang dipakai. Dari situ, Richard remaja makin haus akan buku.
Richard paling gemar membaca buku-buku sastra, filsafat dan seni. Jadi jangan heran tumpukan koleksinya didominasi tiga jenis buku tadi. Meski, ”Saya juga senang baca sejarah Indonesia. Contohnya, buku-buku karya Onghokham.”
Kesibukan yang membelit Richard tak lantas hobi baca berkurang. Ia tetap mengalokasi waktu untuk yang satu itu. Biasanya, waktu baca dilakukan pada pagi hari dan menjelang tidur.
Dari membaca Richard tak segera berpuas diri. Ia merambah dunia lain: tulisan. Pengaruh bacaan sastra membuat Richard mantap menulis novel. Tahun 1999, ia melansir The Pathfinders of Love. Setahun kemudian, The Heart of Night menyusul. Pada April mendatang, ia bakal meluncurkan karya terbaru: The Sound of Solitude. ”Tapi judul itu masih tentative ya. Naskahnya sih sudah jadi, tapi judul itu masih tentative,” jelas lulusan English Literature dan Creative Writing Universitas Wisconsin, Madison, Amerika Serikat.
Selain menulis, Richard buka toko buku. QB World Books yang didirikannya sejak pertengahan 1999 saat ini menjadi ukuran mencari buku-buku berkualitas. Hingga kini sudah ada empat toko. Tahun ini, akan tambah dua: Plaza Semanggi, Jakarta dan Bandung, Jawa Barat.
Manfaat membaca juga dirasakan Donna Widjajanto (28). Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai Copy Editor Fiksi, Gramedia Pustaka Utama ini tak ragu menyebut, ”Buku adalah jendela dunia.” Apalagi saat temannya bertanya dengan takjub, ”Don, lu udah ke negara apa aja sih?” Padahal, sampai kini Donna belum pernah ke luar negeri.
Donna sudah tertarik buku sejak usia dua atau tiga tahun. Buku-buku seperti Hansel and Gretel, Rapunzel, dan Little Red Riding Hood (serial Ladybird) membuatnya jatuh cinta. Maklum buku itu berisi warna-warna cerah dan gambar-gambar yang sangat hidup.
Saat duduk di kelas empat SD, Donna mulai mengenal Winnetou dan Old Shatterhand. ”Saya kenal lewat terbitan Pradnya Paramita dan Album Cerita Ternama (ACT) terbitan PT Gramedia,” katanya. Lucunya, sebelum itu ia sering meminta sang ibu atau tante membacakan buku-buku tadi setiap malam.
Selain itu, Donna juga tertarik dengan komik Eropa seperti Tintin, Tanguy & Laverdure, Michel Vaillant, Asterix, Smurf, Johan dan Pirlouit. Plus, komik Indonesia karya RA Kosasih, Sie Djin Koei karya Siauw Tik Koei, atau komik cerita-cerita Alkitab.
”Petualangan saya berkembang lewat karya-karya Enid Blyton. Lima Sekawan, Si Badung, Mallory Towers, Si Kembar,” ujar perempuan ramah berkacamata ini. Ia begitu tergila-gila dengan seri asrama karangan Enid Blyton. Semuanya tamat. ”Tapi, serial petualangannya hanya Lima Sekawan yang saya tamatkan.”
Waktu kuliah Donna mencatat novel: Cerita-Cerita Timur-nya Marqurite Yourcenar dan Saman-nya Ayu Utami. ”Saman di-blow up dalam berbagai pemberitaan, dan saya memperolehnya begitu terbit. Habis saya baca dalam tiga jam, di antaranya kira-kira satu jam mencekam di bagian cerita perkebunan itu,” paparnya bersemangat. Jadi kesimpulan dia: kacau! Dia sampai tidak berani bergerak waktu membacanya.
Menurut Donna, Cerita-Cerita Timur lain dengan Saman. Penggambaran Marquerite Yourcenar dalam cerita-cerita pendeknya begitu halus, sampai ia ingin menangis membacanya. Luar biasa indah.
Donna tambah semangat. Ia berhasil bekerja sesuai dengan impiannya. Hanya saja, ”Saya sendiri setiap kali ditanya betah atau tidak menjadi copy editor selalu merasa ambigu.” Di satu sisi ini bukan pekerjaan yang sesuai dengan bidang studinya tetapi, ”Di sisi lain, aduh, mana bisa saya tidak membaca novel? Jadi… yah, saya rasa saya masih akan ada di sini lama sekali….” tukasnya sambil tersenyum.
Sugianganto Budisuharto - Deputi Presiden Direktur dan Chief Marketing Officer AIG Lippo Life punya cerita lain. Di sela kesibukan kantor, ia masih sempat membaca. Malah, pria berkacamata ini terlihat begitu disiplin.
”(Waktu) membaca saya bagi dua. Dari jam enam pagi sampai jam enam sore. Terus jam enam sore sampai enam pagi,” kata Budi, sapaan akrabnya. Cermin disiplin itu terlihat begitu ia menyodorkan jadwal baca Dalam jadual tadi, tertulis masing-masing topik. Misalnya, hari senin topik bacaan pertama: manajemen dan kedua, pengembangan diri. ”Saya disiplin menjalankannya,” ujar pria kelahiran Semarang 20 Desember 1958 ini bangga.
Novel juga jadi sasaran baca Budi. Ia menyebut karya-karya Torey Hayden, J.K. Rowling, Sir Arthur Conan Doyle dan Agatha Christie. Karya dua nama terakhir ia koleksi lengkap.
Budi bukan cuma hafal dengan isi buku yang dibaca. Ia pun sanggup menunjukkan di mana buku itu ditaruh. Coba saja sebut satu topik, ia langsung menunjukkan deretan buku yang dimaksud. Itu sebabnya, ia begitu gusar bila lemari buku miliknya dipindah tanpa sepengetahuan dia. (SH/bayu dwi mardana)
dari : sinarharapan.co.id



Banyak orang saat ini ingin mendapatkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi (PT) tetapi tidak tahu dan bingung harus ke mana melangkah. Pada akhirnya banyak yang ikut-ikutan terbawa teman berspekulasi masuk ke PT melalui seleksi dengan persaingan sangat ketat, padahal bila ia memang tidak memiliki kemampuan di atas rata-rata, itu hanya buang waktu dan biaya saja -kalo toh pada gilirannya ia gak bisa lolos juga.
Oleh karena itu jangan dibiasakan berspekulasi, pilih langsung PT negeri yang pasti merima anda kapan pun ! Ya kapan saja, karena registrasi mahasiswa baru dilakukan setiap hari dan wisuda tiap semester ( setahun dua kali). Segera raih cita-cita anda, jangan buang waktu, 3 tahun cepat berlalu, daripada waktu dibuang-buang tak berguna, mendingan jadi sarjana -langsung aja daftar dan cari info sekarang ke hotline : 022-713350 022-730314141 022-92022241
Bila anda karyawan sibuk yang sering ditugaskan ke berbagai kota di luar Bandung, tidak perlu khawatir tidak bisa mengikuti kuliah dan ujian akhir semester (UAS) karena walaupun anda terdaftar di Bandung namun dalam mengikuti ujian bisa di mana saja di 69 kota di seluruh Indonesia.



