Newsflash

unit tutorial kampus -utkampus , merupakan pusat studi mahasiswa -psm- Universitas Terbuka yang pertama di Indonesia yaitu sejak 1989 dengan menyelenggarakan bimbingan belajar bagi mahasiswa UT yang masih membutuhkan bimbingan dalam memahami isi materi bahan ajar (modul) dari setiap mata kuliah sesuai program studi yang diambilnya.kuliahUT

Perkuliahan tatap muka -tutorial, dilaksanakan secara intensif setiap hari  tetapi absensi kehadiran bebas, artinya anda bebas mengikuti kuliah sebebas waktu yang anda miliki. Jadi bagi mahasiswa yang karyawan sibuk atau kerja shift, bisa mengatur sendiri waktunya agar dapat menyesuaikan antara jadwal kuliah dengan aktivitas pekerjaan.

Tetapi bagi mahasiswa yang bisa hadir teratur, perkuliahan diselenggarakan di utkampus jalan Terusan Halimun 37 Bandung setiap hari (sesuai jadwal) mulai pukul 17.00 sampai 19.00 (kalau satu mata kuliah) atau sampai pukul 21.00 (kalau dua mata kuliah).

Nah bagi mereka yang sibuk, tak masalah tak hadir ke kampus, tapi modul materi kuliahllooking_at_lapton harap tetap dipelajari, sehingga begitu ada hal yang kurang paham dapat langsung ditanyakan sesuai jadwal kuliah tadi. Namun bila semua dapat dipahami dengan membaca sendiri,  berarti mahasiswa tersebut tak hadir sama sekali ke kampus tak menjadi masalah dan dapat langsung mengikuti Ujian Akhir Semester. Fleksibel bukan ?
 

 
Advertisement

Flash

unit tutorial kampus -utkampus, togamerupakan pusat studi mahasiswa -psm- Universitas Terbuka yang pertama di Indonesia yaitu sejak 1989 dengan menyelenggarakan bimbingan belajar bagi mahasiswa UT yang masih membutuhkan bimbingan dalam memahami isi materi bahan ajar (modul) dari setiap mata kuliah sesuai program studi yang diambilnya. Melalui  utkampus mahasiswa UT akan diarahkan bagaimana caranya agar program studi dapat diselesaikan dalam waktu 3 - 3.5 tahun saja.toga6

utkampus adalah tempat kuliah paling fleksibel dan pas buat anda karyawan sibuk ! SELAMAT BERGABUNG DENGAN KAMI MERAIH MASA DEPAN SECARA PASTI SECARA BENAR DAN BERKUALITAS !

UT diresmikan pada tanggal 4 September 1984, berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 41 Tahun 1984.UT telah memperoleh Sertifikat Kualitas dan Akreditasi Internasional dari Internasional Council for Open and Distance Education (ICDE) Standard Agency (ISA) tanggal 12 Agustus 2005.

Pada tanggal 14 Maret 2006, UT juga memperoleh Sertifikat ISO 9001:2000 untuk bidang Layanan Bahan Ajar dari Badan Sertifikasi SAI Global.

 

 

 

Who's Online

We have 11 guests online

Statistics

OS: Linux s
PHP: 5.2.10
MySQL: 5.0.91-community
Time: 13:47
Caching: Disabled
GZIP: Disabled
Members: 12
News: 109
Web Links: 5
Visitors: 250700

busy workBila anda karyawan sibuk yang sering ditugaskan ke berbagai kota di luar Bandung, tidak perlu khawatir tidak bisa mengikuti kuliah dan ujian akhir semester (UAS) karena walaupun anda terdaftar di Bandung namun dalam mengikuti ujian bisa di mana saja di 69 kota di seluruh Indonesia.

Selama anda bisa mengakses ke 69 kota tersebut, maka UAS anda tidak akan terlewatkan karena pelaksanaan ujiannya juga dilakukan pada hari Minggu. Nah kenapa tidak segera gabung dengan kami di utkampus Jl. Terusan Halimun 37 Bandung.

 UT diresmikan pada tanggal 4 September 1984, berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 41 Tahun 1984.UT telah memperoleh Sertifikat Kualitas dan Akreditasi Internasional dari Internasional Council for Open and Distance Education (ICDE) Standard Agency (ISA) tanggal 12 Agustus 2005.

Pada tanggal 14 Maret 2006, UT juga memperoleh Sertifikat ISO 9001:2000 untuk bidang Layanan Bahan Ajar dari Badan Sertifikasi SAI Global.

joint us now :

022- 7313350 (pstn)

022- 7031 4141 (flexy)

022- 920 99941 (esia)

081802 161627 (xplor)

 

 
 
powered_by.png, 1 kB

Home arrow News arrow Latest arrow Berburu Buku di Titi Gantung Medan
Berburu Buku di Titi Gantung Medan Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 16 January 2009

MEDAN – Kenangan menggantung di Titi Gantung. Kisah ini setidaknya akan menempel di kepala para pemburu buku seantero kota Medan. Lokasi yang dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda itu bukan saja menjadi saksi sejarah tetapi menyisakan kisah pahit-manis bagi para pemburu dan penjual buku. Sejak dipindah, kawasan ini sepi dari transaksi koleksi buku.
Titi Gantung (jembatan gantung, dalam ragam bahasa Medan - Red) amat terkenal bagi warga masyarakat Kota Medan dan sekitar Sumatera Utara. Sebab, di sinilah mereka yang membutuhkan buku masih ada sedikit harapan. Setidaknya, harapan itu kini digantungkan di Pasar Buku.
Di sini, pembeli juga bisa menemukan buku-buku yang diterbitkan di awal abad ke-20 hingga yang terbaru. Baik itu terbitan dalam negeri maupun luar negeri. Sering ditemukan buku-buku dalam bahasa Belanda, Inggris dan Jerman.


Biasanya, semakin tua tahun cetakan buku, harganya pun semakin mahal. Atau bila buku tersebut dianggap bagus, maka tawaran kepada pembeli juga akan tinggi. Tapi soal harga, tetap saja tergantung kemampuan menawar pembeli.
”Aku barusan dapat buku Bumi Manusia karya Pramudya cetakan pertama tahun 1950-an. Yah .. meski kondisinya tak begitu bagus, tapi yang penting ‘kan isinya. Lagi pula aku udah lama mencari buku ini, eh malah dapat di sini dengan harga Rp 5.000. Lumayan, kan,” kata Ekmal Noor Adha (26), alumni Fisipol USU tersebut kepada SH. Padahal, kalau di toko buku dengan cetakan terbaru harganya bisa lebih dari Rp 35.000.


Ekmal mengaku, selain membeli buku karya Pramudya Ananta Toer itu, ia juga mendapatkan dua buah majalah Tempo Edisi Tahun Baru 1999 - 2000 dan 2000 - 2001. Lagi-lagi, harganya cukup mencengangkan, hanya Rp 1.500 per eksemplarnya.

Berlangganan
Awalnya, ujar Ekmal, ia berlangganan membeli buku bekas di Titi Gantung ini sejak kuliah tahun 1995 lalu. Ketika itu, harga buku tak bisa dijangkaunya. Akhirnya ia iseng mencari-cari buku ke Titi Gantung. Sejak itu, ia kerap mendapatkan buku-buku lama yang jelas di toko tak bisa ia dapatkan lagi.
”Aku pernah beli buku sampai 5 buah seharga Rp 20.000. Dan untuk mendapatkan uang membeli buku-buku itu, aku harus puasa selama tiga hari,” kisah Ekmal yang mengaku tinggal di Kodya Binjai - 25 kilometer dari Medan - tersebut.


Kegandrungannya memburu buku itu pula yang menyebabkan Ekmal mengunjungi lokasi penjual buku bekas ini hampir setiap minggu. Malah, katanya, hampir seluruh buku kuliahnya ia beli di situ.
Lain halnya seorang ibu yang membawa dua anaknya untuk menjualkan buku-buku SMU milik salah satu anaknya yang baru saja mengikuti ujian akhir di sekolah. Ada sebanyak 21 buku yang dijualnya dengan harga Rp 30.000.
Lalu dengan uang itu pula, ia membelikan anaknya yang baru kelas satu SD buku-buku bacaan dan pelajaran lainnya. ”Lumayanlah, untuk menambahi uang buku anak,” kata ibu itu kepada SH.
Tak hanya menjual buku, ternyata di sini juga berlaku sistem tukar tambah. ”Yah, kalau nggak mau dijual, bisa tukar tambah kok. Asal harganya cocok saja,” timpal seorang pedagang buku.
Selain buku cetakan asli, di kawasan ini terdapat banyak buku bajakan. Buku-buku tersebut biasanya dicetak di atas kertas berkualitas rendah. Hanya saja, biasanya buku yang dibajak itu adalah buku pelajaran sekolah mulai SD hingga SMU. Namun tak jarang ditemukan buku-buku ilmiah dan populer yang dibajak dijual di sini.


Dan jangan heran bila buku-buku yang dijual berstempel perpustakaan ataupun tanda tangan mantan pemilik buku. Tapi bagi masyarakat yang membutuhkan buku, hal itu bukan masalah. Yang jelas, hasrat membaca terpenuhi.
Menurut seorang pedagang, MR Panjaitan (60), warga Jl Turi Medan, tren permintaan pasar buku bekas ini meningkat sejak tahun 1970-an.
”Waktu itu tingkat permintaan mulai tinggi. Lalu kita harus mencari sumber buku yang akan dijual. Akhirnya, kita mulai membeli buku-buku bekas dari para pembeli yang sudah tidak memakai bukunya lagi. Kemudian kita jual,” kata Panjaitan yang sudah berjualan sejak tahun 1960.
Menurut Panjaitan lagi, selama berdagang, para pembeli paling banyak mencari buku-buku pelajaran. Mulai dari buku pelajaran SD hingga SMU.
Biasanya, pencarian itu ramai saat menjelang catur wulan I, II dan III. Dan tertinggi, penjualan di bulan-bulan Juli hingga Oktober. ”Itu tahun ajaran baru di sekolah. Sehingga banyak murid yang mencari buku-buku pelajaran ke sini karena harganya lebih murah hingga 30% dari harga yang ditetapkan toko buku,” ujar Panjaitan.
Para pedagang membeli buku-buku bekas itu dengan harga yang sangat murah. Misalnya saja bila mereka membeli seharga Rp 1500 per buku, maka pedagang kembali menjualnya seharga Rp 3000 sampai Rp 7500 per eksemplarnya
Sedangkan untuk buku pelajaran baru, biasanya para pedagang mengambil keuntungan bersih maksimal antara 3% - 5% saja. ”Makanya, kita lebih prioritas jual buku-buku bekas,” tambah Panjaitan.

Berawal di Titi Gantung
Perdagangan buku bekas ini sebetulnya berawal di Titi Gantung, sebuah bangunan bersejarah yang terletak hanya 50 meter dari lokasi Pasar Buku.
Titi Gantung sendiri dibangun tahun 1885 oleh Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) bersamaan dengan stasiun kereta api Medan yang ada sekarang. Titi tersebut dibangun pejalan kaki yang ingin melintasi Jl. Kereta Api (dulu ; Spoorstraat) ke Jl. Irian Barat (dulu ; Kwanteebiostraat) maupun sebaliknya.
Bentuknya juga unik. Tangga masuknya dibuat dua sisi, yakni kiri dan kanan yang bertemu di tengah. Kemudian melintasi rel kereta api yang berada di bawahnya.
Struktur jembatan yang kuat ditata dengan pegangan dari beton bertulang dan rangka baja. Kemudian pegangan atau railing jembatan terbuat dari beton dan besi. Dinding jembatan sebagian masih menggunakan kayu yang ditopang konstruksi baja.
Setelah dijadikannya kereta api sebagai transportasi darat untuk publik, maka perdagangan buku dan media cetak pun mulai berlangsung pada tahun 1940-an. Ketika itu, tak hanya buku yang dijual, tapi juga peralatan rumah tangga dan sebagainya.
Namun biasanya pedagang berjualan pada hari-hari tertentu saja. Karena peminat buku dan media cetak cukup banyak, maka akhirnya yang berdagang pun semakin banyak. Sedangkan pedagang non bacaan memilih pindah ke tempat lain.
Seiring tingginya permintaan buku, para pedagang yang semula terdiri beberapa kios, kini bertambah jadi puluhan kios. Bahkan menjamur hingga memenuhi sepanjang titi tersebut.
Namun, medio Juli 2003 lalu Pemko Medan menata para pedagang dengan memindahkannya ke Pasar Buku yang berada di sisi timur Lapangan Merdeka Medan. Dengan alasan penataan Titi Gantung, Pemerintah Kota Medan menyediakan puluhan kios pengganti di sisi timur Lapangan Merdeka yang berjarak sekitar 50 meter dari lokasi semula –hanya berseberangan jalan saja. Dan selama setahun, mereka digratiskan listrik dan biaya kios. Saat ini, para pedagang buku dan majalah bekas malah sudah memenuhi seluruh kios.
Pemko Medan memindahkan lokasi perdagangan buku bekas tersebut karena Titi Gantung akan dijadikan sebagai sebuah lokasi tongkrongan malam yang baru. Hal ini dilakukan setelah Pemko Medan menilai keberhasilan Kesawan Square yang ditutup pada malam hari dan dijadikan sebagai pusat jajanan malam.
Namun kenyataan itu tak menjadikan pendapatan pedagang menjadi lebih baik. Bahkan tak sedikit yang kehilangan omzet sampai lebih 50%.
Hal ini diakibatkan para pembeli tak lagi melintasi tempat dagangan mereka. Meski persis berada di pusat dan sisi jalan protokol kota Medan, namun tak banyak orang yang melintas lokasi ini dengan berjalan kaki.
Tak pelak, mereka pun merasa dirugikan oleh sikap Pemko Medan tersebut. Dan rencananya, bila sampai tahun 2004 ini tak berubah, maka para pedagang buku akan memprotes kebijakan Pemko Medan yang dinilai tak berpihak kepada para pedagang buku.
(SH/darma lubis)

dari : sinarharapan.co.id

 
< Prev   Next >
© 2010 S1negeri 3tahun tanpa skripsi - murah-berkualitas
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.