Paparan Sejarah yang Menjawab
Kebutuhan Intelektual

SH/Tinnes Sanger
Polycarpus Swantoro menunjukkan salah satu koleksi buku tua kebanggaannya, Door Duisternis tot Licht, Dari Gelap Terbitlah Terang. Buku yang berisi surat-surat R.A. Kartini kepada Ny. Abendanon-Mandri dan suaminya ini pertama terbit 1.000 eksemplar pada 1911 (atas).
JAKARTA – Buku tua tak hanya membawa segudang memori di dalamnya. Buku ini bisa menjawab kebutuhan intelektual seseorang.
Ya, kalau mau jadi yang besar kita harus mulai belajar sejarah dari buku lawas. Ingat saja kata-kata ”Djas Merah, djangan sekali-kali meninggalkan sedjarah!” Wejangan bertuah dari Soekarno, bapak bangsa besar ini. Di sisi lain, memburu buku tua adalah sebuah seni tersendiri.
Polycarpus Swantoro selalu gembira saat ditanya awal ketertarikannya pada buku. Meski terkesan basi-basi, toh ia tak pernah keberatan untuk memulai bercerita. Baginya, justru inilah bagian terpenting dalam diri sebelum larut menekuni hobi berburu buku tua. Malah di antaranya termasuk kategori langka.
”Saya mulai senang dengan buku sejak masih belajar di sekolah dasar. Waktu itu, saya pernah melihat-lihat sebuah buku kepunyaan bapak,” tutur Swantoro, sapaan akrab bapak kelahiran Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, 26 Januari 1932 ini. Anehnya, buku yang sering ia lihat tadi tak jarang masih muncul dalam ingatannya. Swantoro kecil memang tak mahir berbahasa Belanda. Itu sebabnya, ia lebih banyak mengagumi rangkaian gambar berupa perisai warna-warni yang terpampang pada dua halaman.
Tiap kali memorinya terusik, benak Swantoro selalu gelisah. Pasalnya, buku kepunyaan sang bapak – FX. Santapratiknya – itu sudah lama tak ada. Ia pun tak sempat bertanya kepada empunya yang sudah tiada sejak 1982. ”Kebetulan waktu tahun 1994, saya punya tetangga baik. Namanya, Bunyamin Wibisono. Dia ini yang membantu saya mendapatkan buku buruan itu,” cerita mantan wartawan dan petinggi Kelompok Kompas Gramedia (KKG) itu.
Berhasil didapat, buku itu segera dibedah. Lembar demi lembarnya disimak baik-baik. Gambar yang berwarna yang selalu diingat tadi ternyata lambang kotapraja-kotapraja di zaman Hindia-Belanda. Ini satu-satunya gambar berwarna di dalam buku itu.
Kata Swantoro, buku ini adalah Ensiklopedi Bergambar Hindia-Belanda, judul aslinya Geillustreerde Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië. Ensiklopedi ini diterbitkan di Leiden pada 1934 oleh N.V. Leidsche Uitgeversmaatschappij.
Kesenangannya memburu buku tua memang tak pernah putus. Sejak 1987, satu demi satu buku-buku lawas yang banyak bercerita tentang sejarah dunia dan nusantara berhasil ia kumpulkan. Ada karya J. Th. Petrus Blumberger, seperti De Communistische Beweging in Nederlandsch-Indië (1928), Pergerakan Komunis di Hindia-Belanda.
Swantoro juga punya buku yang memuat sastra lama, macam Smaradahana, Kidoeng Soenda, Ken Ayrok, Tjalon Arang yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Dr. C. Hooykaas. Penerbitnya, N.V.P. Noordhoff-Groningen-Batavia, 1933. ”Waktu dulu, buku ini jadi bacaan wajib di sekolah.”
Adolf Hitler
Belum lagi sempat meneliti buku sastra lama tadi, Swantoro yang pernah mengeyam kuliah sejarah di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta itu sudah menyodori lagi beberapa buku tua. ”Coba lihat. Ini buku tua tentang sejarah singkat kereta api di Indonesia. Penulisnya, S.A.Reitsma, bekas Kepala Perkeretapian di Hindia Belanda.” Buku ini diterbitkan oleh G.Kolff & Co, Weltevreden pada 1928.
Setelah itu, tangan kanan Swantoro mengangkat satu buku lagi. Wow, kali ini lebih fenomenal. Betapa tidak, pada sampul depannya tertulis Mein Kampf, Adolf Hitler. Buku yang seluruh halamannya sudah menguning itu merupakan terjemahan ke dalam teks Inggris dari tulisan asli Hitler. Saya sempat menelisik daftar isinya. Ternyata, buku hasil terjemahan James Murphy ini terdiri dari dua bagian, A Retrospect dan The National Socialist Movement. Penerbitnya, Hurst and Blackett Ltd, London-New York-Melbourne. Ini adalah hasil cetakan pada April 1942.
Kebanggaan itu masih berlanjut saat ia menunjukkan buku kumpulan surat-surat R.A. Kartini kepada Ny. Abendanon-Mandri dan suaminya. Rasa bungah Swantoro sangat beralasan. Sebab, buku yang berjudul asli Door Duisternis tot Licht, Dari Gelap Terbitlah Terang ini pertama terbit 1.000 eksemplar pada 1911 (Semarang-Surabaja-‘sGravenhage: G.C.T. van Dorp).
Ribuan Buku
Kini, koleksi buku lawas Swantoro berjumlah ribuan. Persisnya, Pak? ”Wah, jangan tanya soal itu. Saya ndak pernah ingat, pokoknya tulis saja ribuan buku.” Waktu dan harga beli sejumlah buku kebanggan tadi, Swantoro juga tak selalu mengingatnya. ”Saya ini bukan orang yang cermat. Memang seharusnya masing-masing buku dicatat tanggal dan harga belinya.” Boleh jadi, kesibukannya sebagai pejabat teras di lingkungan KKG telah banyak menyita waktu luangnya.
Meski begitu, dari ribuan buku koleksi tadi, favorit Swantoro jatuh pada jenis Ensiklopedia. ”Ensiklopedi adalah pelarian pertama kita saat mencari keterangan tentang sesuatu,” begitu alasan lulusan SMA ”St. Albertus” Malang ini. Karena itu, lelaki yang mulai mengenal Jakob Oetama sejak 1946 ini tak pernah melewatkan seri ensiklopedia. Di lemari koleksinya, ada beragam tema, dari dunia Islam, Katolik sampai Umum.
Untuk menambah koleksi, Swantoro mengaku tak perlu berburu sampai ke negeri seberang alias mancanegara. Cukup mengandalkan pasokan buku-buku tua yang beredar di negeri sendiri. Kalau sampai ada buku yang tak berhasil didapat, ia akan memfotokopi-nya. Sebagai contoh, ada beberapa buku yang difotokopi dari Perpustakaan Hatta di Yogyakarta.
Selain ketekunan, memburu buku tua juga butuh kesabaran. Dua jilid Kamus Gericke-Roorda cetakan 1901 berhasil didapat pada 28 Agustus 1990. Ini merupakan puncak perburuan yang dilakukan selama beberapa tahun. Kedua jilid berukuran sama, 17,5 x 27 cm. Sekarang ini, kamus itu termasuk barang antik, tapi masih tetap berguna sebagai bahan studi.
Sebagai informasi, kamus Gericke-Roorda adalah kamus Jawa-Belanda yang disusun oleh Gericke, selanjutnya dikoreksi dan disunting oleh Roorda. Kamus ini memakai dua jenis huruf atau aksara: aksara Jawa untuk menuliskan kata-kata Jawa dan aksara Latin untuk kata-kata Belanda. Kata Swantoro, penyusunan kata dalam kamus itu tak memakai sistem alfabet, melainkan Hanacaraka.
Bagi Swantoro, kesenangannya mengoleksi buku tua tidak saja menjawab kebutuhan intelektual tetapi juga memancing hasrat untuk membuat sebuah catatan perjalanan kecil, buku-buku yang ia miliki. Mimpi bercerita hasil perjalanan ini terwujud lewat sebuah karya Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu. Lewat gaya bercerita yang khas – Jakob Oetama menyebutnya, Storytelling – Swantoro berhasil menyajikan paparan sejarah yang lancar dan mengalir. Sama sekali tak terkesan menggurui.
”Saya buat buku itu setahun lamanya, dari 31 Agustus 2000 – 30 November 2001,” kata Swantoro saat ditemui beberapa waktu lalu. Sayang, operasi katarak pada matanya menunda mimpi berikut pria ramah ini. Untuk yang satu ini, ia menolak memberi bocoran.
(SH/bayu dwi mardana)
dari : sinarharapan.co.id
merupakan pusat studi mahasiswa -psm- Universitas Terbuka yang pertama di Indonesia yaitu sejak 1989 dengan menyelenggarakan bimbingan belajar bagi mahasiswa UT yang masih membutuhkan bimbingan dalam memahami isi materi bahan ajar (modul) dari setiap mata kuliah sesuai program studi yang diambilnya. Melalui 


harap tetap dipelajari, sehingga begitu ada hal yang kurang paham dapat langsung ditanyakan sesuai jadwal kuliah tadi. Namun bila semua dapat dipahami dengan membaca sendiri, berarti mahasiswa tersebut tak hadir sama sekali ke kampus tak menjadi masalah dan dapat langsung mengikuti Ujian Akhir Semester. Fleksibel bukan ?
Banyak orang saat ini ingin mendapatkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi (PT) tetapi tidak tahu dan bingung harus ke mana melangkah. Pada akhirnya banyak yang ikut-ikutan terbawa teman berspekulasi masuk ke PT melalui seleksi dengan persaingan sangat ketat, padahal bila ia memang tidak memiliki kemampuan di atas rata-rata, itu hanya buang waktu dan biaya saja -kalo toh pada gilirannya ia gak bisa lolos juga.
Oleh karena itu jangan dibiasakan berspekulasi, pilih langsung PT negeri yang pasti merima anda kapan pun ! Ya kapan saja, karena registrasi mahasiswa baru dilakukan setiap hari dan wisuda tiap semester ( setahun dua kali). Segera raih cita-cita anda, jangan buang waktu, 3 tahun cepat berlalu, daripada waktu dibuang-buang tak berguna, mendingan jadi sarjana -langsung aja daftar dan cari info sekarang ke hotline : 022-713350 022-730314141 022-92022241


