Hardiknas di UGM: Peningkatan Penguasaan Teknologi dan Pendidikan untuk Hadapi Persaingan Global Bertempat di halaman Balairung UGM, pada Sabtu (2/5) dilangsungkan Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2009. Upacara dipimpin langsung oleh Rektor UGM, Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D. Tampak hadir dalam upacara tersebut unsur Pimpinan Majelis Wali Amanat, Majelis Guru Besar, Senat Akademik, Pimpinan Universitas dan Fakultas, tenaga pendidik dan kependidikan, serta mahasiswa di lingkungan kampus UGM. Peringatan Hardiknas kali ini mengambil tema “Pendidikan Sains, Teknologi, dan Seni Menjamin Pembangunan Berkelanjutan dan Meningkatkan Daya Saing Bangsa”. Tema tersebut disesuaikan dengan permasalahan saat ini dalam konteks peningkatan mutu pendidikan nasional untuk menyiapkan insan Indonesia yang cerdas, berbudaya, bermutu, dan berdaya saing dalam menghadapi ketatnya persaingan di kancah internasional. Menteri Pendidikan Nasional dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Rektor menyatakan bahwa sains memiliki peran penting dalam penguasaan teknologi. Lebih lanjut disampaikan, “Kemampuan penguasaan teknologi tidak hanya dikembangkan melalui peningkatan keterampilan menggunakan teknologi, namun juga melalui pengembangan daya nalar dan kreasi di setiap jenjang pendidikan. Karena hal tersebut merupakan landasan yang kokoh untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam meraih masa depan bangsa yang lebih maju.” Upaya peningkatan kemampuan anak bangsa di bidang sains telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hal itu terbukti dengan semakin meningkatnya peserta didik yang meraih medali di berbagai olimpiade sains di tingkat nasional dan internasional. Meskipun banyak kemajuan yang telah diraih, ke depan masih perlu meningkatkan pembangunan nasional sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tuntutan zaman. Dalam kurun waktu 2005-2008, pendanaan pendidikan melalui program BOS, BOS buku, bantuan khusus murid, bantuan operasional manajemen mutu, dan beasiswa menunjukkan hasil dan manfaat yang signifikan. Program BOS telah membebaskan 70,3% siswa SD/MI dan SMP/MTs dari pungutan biaya operasional. Di samping itu, target penuntasan program Wajar 9 tahun pada 2008 telah tercapai. Sementara itu, mulai Januari 2009 biaya satuan BOS, termasuk BOS buku untuk tiap siswa per tahun naik. SD di kota mendapatkan Rp400.000,00 dan di kabupaten Rp397.000,00, sedangkan SMP di kota Rp575.000,00 dan di kabupaten Rp570.000,00. Hal tersebut merupakan bukti komitmen pemerintah dalam memenuhi amanat UUD 1945 terkait dengan kenaikan 20% anggaran pendidikan. Mutu guru dan dosen telah ditingkatkan melalui peningkatan kualifikasi dan sertifikasi profesi. Sekitar 1,75 juta guru yang belum S1/D4, 150 ribu dosen yang belum mengambil S2/S3, dan 2,7 juta guru ditergetkan dapat melanjutkan pendidikan dalam kurun waktu 10 tahun. Di samping itu, 300 ribu dosen harus meraih sertifikasi. “Kesejahteraan tenaga pendidik juga akan ditingkatkan 2 kali lipat sebagai upaya menunjukkan keseriusan pemerintah dalam meningkatkan citra dan martabat pendidik,” lanjutnya. Dalam pengembangan infrastruktur TIK untuk e-pembelajaran dan e-administrasi telah tersambung melalui jejaring pendidikan nasional, meliputi zona sekolah (>15 ribu), zona perguruan tinggi (83 PTN dan 177 PTS), dan 37 unit pelayanan pendidikan jarak jauh Universitas Terbuka (UT) yang melayani lebih dari 60% populasi mahasiswa. Pada bidang pengembangan sarana-prasarana pendidikan juga terus ditingkatkan, mulai dari level Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan pendidikan tinggi. Sampai saat ini telah dibangun unit sekolah baru sebanyak 6.158 unit, 15 politeknik, 55.947 ruang kelas baru, 310.596m2 perguruan tinggi, 14.074 unit perpustakaan, 11.591 unit laboratorium, juga rehabilitasi ruang kelas SD/MI sebanyak 284.976, SMP/MTs 29.894 ruang, dan SMA/SMK/SLB 4.598 ruang. Di bidang perbukuan, Depdiknas telah membeli 598 judul buku. Sementara dalam peningkatan mutu dan daya saing pendidikan, sekolah dengan acuan standar pelayanan minimal untuk tingkat SD sebanyak 35.995 (24%), SMP 24.296 (84,19%), SMA 2.725 (28,63%) dan SMK 3.682 (53,19%). Sekolah dengan acuan mutu rintisan sekolah standar internasional tingkat SD sebanyak 3.438 (2,32%), SMP 2.191 (7,59%), SMA 2.465 (25,90%) dan SMK 800 (11,56%). Sekolah dengan acuan mutu rintisan sekolah bertaraf internasional tingkat SD 126 (0,09%), Smp 230 (0,08%), SMA 200 (2,10%) dan SMK 300 (4,33%). Sementara itu, sekolah dengan acuan mutu bertaraf internasional, tingkat SD sebanyak 81 (0,05%), SMP 47 (0,16%), dan SMA 59 (0,62%). Pada jenjang perguruan tinggi, beberapa perguruan tinggi di Indonesia telah memperoleh pengakuan sebagai perguruan tinggi berkelas dunia versi Times Higher Education Supplement, yaitu UI di peringkat 287, ITB peringkat 315, dan UGM peringkat 316, dengan 520 prodi yang masuk peringkat 500 dari seluruh dunia. Sementara Undip, Unair, dan IPB menduduki peringkat 410-450. Di samping itu, 47 prodi UT mendapat akreditasi dari International Council Of Distance Education sehingga sampai kini terdapat 567 prodi berkelas dunia yang melayani sekitar 12% dari seluruh mahasiswa Indonesia. Berkaitan dengan otonomisasi satuan pendidikan, pemerintah pusat memberikan otonomi pada pemda untuk mengurus pendidikan anak usia dini, dasar, dan menengah secara demokratis. Disampaikan Mendiknas, ”Pada tingkat sekolah atau madrasah, otonomi satuan pendidikan diberikan melalui manajemen berbasis sekolah, termasuk BOS & KTSP. Sementara untuk jenjang pendidikan tinggi, otonomi diberikan melalui badan hukum pendidikan.” (Humas UGM/Ika) dari : ugm.ac.id
|